BANDA ACEH, iNewsPortalAceh.id — Momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai ruang konsolidasi pelajar dan santri untuk tetap produktif dan berprestasi. Memasuki fase Maghfirah (hari ke-6 hingga ke-15 Ramadan), pendakwah muda Azhar Kiran menginisiasi gerakan nasional bertajuk Belajar Mandiri 24 Jam yang menyasar siswa dan santri dari seluruh Indonesia.
Gerakan ini dikemas dalam program Festival Ramadhan Ceria, sebuah ajang pengembangan bakat dan silaturahmi nasional yang mempertemukan peserta lintas daerah melalui karya dan kreativitas.
“Ramadan bukan hanya menahan lapar, tetapi momentum mempererat ukhuwah dan mengukir prestasi. Kita ingin pelajar Indonesia tetap produktif walau sedang berpuasa,” ujar Azhar Kiran dalam keterangan tertulisnya.
Program tersebut menghadirkan sejumlah cabang lomba bernuansa religi dan akademik, di antaranya muhadharah (MC dan pidato tiga bahasa: Arab, Inggris, dan Indonesia), khutbah Jumat, tilawah, selawat, hingga Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) kategori tartil dan tahfiz.
Selain itu, tersedia juga kompetisi cerdas cermat (MSQ dan MFQ) serta seni kaligrafi digital dan tradisional.
Tak hanya itu, peserta juga didorong menampilkan kemampuan multi-bahasa, termasuk Bahasa Aceh, Indonesia, Arab, dan Inggris, sebagai bagian dari penguatan identitas lokal sekaligus wawasan global.
Panitia menetapkan batas akhir pengiriman video pada puasa hari ke-14 pukul 18.00 WIB, dilanjutkan pengumuman pemenang pada hari ke-15 Ramadan.
Hadiah akan dikirim langsung ke alamat peserta di berbagai wilayah Indonesia. Gerakan ini sepenuhnya berbasis digital.
Peserta mengirimkan karya dalam format video berdurasi maksimal delapan menit melalui grup komunitas yang telah disiapkan panitia.
Selain kompetisi, kegiatan juga dilengkapi forum diskusi daring serta layanan konsultasi untuk mendukung proses pembelajaran mandiri.
Azhar Kiran menegaskan, tujuan utama kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan membangun ekosistem saling menginspirasi di kalangan pelajar dan santri.
“Jangan biarkan waktu tidur lebih lama dari waktu belajar. Ramadan adalah momentum emas untuk membuktikan bahwa generasi muda Indonesia mampu disiplin, kreatif, dan berdaya saing,” katanya.
Melalui gerakan ini, diharapkan semangat belajar, kreativitas, dan solidaritas pelajar Indonesia tetap terjaga di tengah suasana ibadah Ramadan, sekaligus memperkuat jejaring silaturahmi nasional berbasis pendidikan dan nilai-nilai keislaman.
Editor : Jamaluddin
