Ia menegaskan, kondisi Desa Kappa harus dilihat langsung oleh pemerintah pusat dan daerah. “Kami berharap pemerintah datang, melihat sendiri, dan bertindak. Jangan menutupi keadaan yang sebenarnya.
Warga di sini bukan angka statistik, mereka manusia anak-anak, lansia, petani yang berhak hidup layak,” tegasnya, disambut anggukan pelan warga yang mendengarkan. 14/02/2026.
Sedangkan di Dusun Bivak Kecamatan Peusangan tempat Relawan Garis Depan org menginap di pemukiman warga, lampu PLN masih padam total sampai saat ini.
Tangis pecah dari Aminah (70), seorang lansia yang kini hidup di rumah darurat sejak banjir merenggut tempat tinggalnya. “Kamoe manusia sit hay neuk, pu hana hate awak rayeuknyan, rata ureng hino jak u blang ngen jak uglee, hudep syit dari tanoh dum, titi putoh, PLN hana udep sampoe an jino karena lee tiang listrek reubah, tanoh hana get lee, malam sit geulap buta hana terang, adak ta na hudep hape hana pat ta telpon sit hana jaringan sapu, lagee donya lua hana tingat kamoe manteng na, na trouh relawan lagenyo na yabg teuingat keu tanyoe rupajih, (Kami ini manusia juga, Nak. Apa orang besar "pejabat" itu tidak punya hati nurani, Kami petani, hidup dari tanah. Sekarang tanah rusak, jembatan putus, malam gelap. Kami tak bisa hubungi siapa-siapa. Saat relawan datang, rasanya seperti dunia ingat kami lagi), ” ucapnya lirih, air mata jatuh di pipi renta yang tak lagi mampu menyembunyikan lelah.
Hal serupa disampaikan Rahman, warga setempat yang kehilangan sawah dan penghasilan. “Anak-anak kami trauma setiap hujan turun. Kami hanya ingin hidup normal kembali, bisa menanam, bisa bekerja. Jangan biarkan kami terus terisolasi,” katanya dengan suara tertahan, menatap ladang rusak yang dulu menjadi sumber kehidupan.
Saat malam kembali turun, Desa Kappa kembali tenggelam dalam gelap dan sunyi. Jembatan - jembatan terputus berdiri bisu, sawah-sawah rusak terhampar seperti luka yang belum sembuh, dan doa-doa dipanjatkan dalam diam. Bantuan relawan telah menyalakan secercah harapan, namun air mata masih jatuh.
Warga Desa Kappa menunggu menunggu pemerintah datang, menunggu cahaya benar-benar menyala, dan menunggu hari ketika mereka tak lagi merasa dilupakan sebagai manusia.
Editor : Armia Jamil
Artikel Terkait
