Selain bantuan berbasis kolaborasi, Kementerian Agama juga membawa bantuan langsung berupa sarung, mukena, sajadah, Mushaf Al-Qur’an, dan tikar untuk disalurkan ke lokasi kunjungan. Bantuan ini melengkapi dukungan anggaran yang telah dialokasikan Kemenag untuk pemulihan layanan keagamaan pascabencana.
Abu menyebut, pihaknya berkomitmen untuk terus mengawal pemulihan secara bertahap dan berkelanjutan. Ia berharap sinergi antara pemerintah, lembaga zakat, dan masyarakat dapat mempercepat pemulihan, sekaligus memperkuat ketahanan sosial-keagamaan warga terdampak.
Rangkaian kegiatan itu juga melibatkan Kanwil Kemenag Aceh, unit Zakat dan Wakaf, BAZNAS, berbagai LAZ nasional, penyuluh agama, ormas Islam, tokoh masyarakat, serta dukungan civitas akademika, termasuk kolaborasi dengan UIN Ar-Raniry dalam kegiatan kemanusiaan dan pendampingan masyarakat.
Sebelumnya, Bimas Islam juga menyalurkan bantuan pascabencana di Padang, Sumatra Barat, senilai Rp1,075 miliar yang bersumber dari anggaran Kemenag dan dukungan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (APRI). Bantuan tersebut mencakup rehabilitasi tiga KUA, pengadaan meubelair, serta donasi bagi penghulu, tokoh agama, dan majelis taklim terdampak.
Selain itu, dalam APBN Kemenag dialokasikan anggaran Rp1,860 miliar untuk pembangunan gedung KUA, sebagai bagian dari upaya memastikan layanan keagamaan tetap berjalan optimal pascabencana.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta
Artikel Terkait
