Maudy mengatakan, pengalaman bertemu langsung anak-anak Aceh Timur sangat membekas dalam ingatannya. “Bencana merusak kelas, tetapi tidak mematahkan semangat anak-anak untuk tetap datang ke sekolah dan belajar,” tuturnya.
Musisi sekaligus aktivis pendidikan tersebut menilai akses pendidikan sering menjadi persoalan terbesar pascabencana. Menurut dia, seringkali yang kurang bukanlah kemauan dan semangat anak-anak untuk belajar, tetapi akses dan ruang yang memungkinkan bagi mereka untuk terus melanjutkan pendidikan. ”Ketika akses pendidikan sudah terbatas sejak awal, bencana seperti ini bisa membuat kesempatan belajar anak-anak semakin timpang. Kami percaya bahwa setiap anak tetap berhak atas pendidikan yang layak, bahkan di tengah situasi yang paling sulit sekalipun. Karena itu, dukungan pendidikan pascabencana menjadi sangat penting,” ungkapnya.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah per Februari 2026 menunjukkan situasi cukup memprihatinkan. Sebanyak 4.922 satuan pendidikan di Sumatera terdampak bencana banjir dan cuaca ekstrem. Angka itu mencakup 3.120 sekolah di Aceh dengan lebih dari 707.161 murid terdampak. Selain itu, sebanyak 59.620 guru ikut merasakan gangguan proses pembelajaran pascabencana panjang. Banyak siswa akhirnya masih belajar menggunakan fasilitas terbatas hingga sekarang.
Editor : Vitrianda Hilba Siregar
Artikel Terkait
