ACEH SELATAN, iNewsPortalAceh.id – Dugaan perekrutan Pegawai Tidak Tetap (PTT) tanpa melalui mekanisme seleksi terbuka di RSUD dr. H. Yuliddin Away (RSUDYA) Tapaktuan menjadi sorotan publik.
Proses penerimaan yang disebut tidak diumumkan secara terbuka itu memunculkan pertanyaan mengenai transparansi dan akuntabilitas pengelolaan sumber daya manusia di rumah sakit milik Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan tersebut.
Informasi yang dihimpun awak media ini menyebutkan, perekrutan melibatkan tenaga kesehatan dan tenaga nonmedis, termasuk petugas keamanan (satpam).
Tidak adanya pengumuman resmi maupun tahapan seleksi yang dapat diakses masyarakat dinilai berpotensi mengurangi kesempatan yang sama bagi pencari kerja.
Sejumlah sumber yang enggan disebutkan namanya mengaku mengetahui adanya penerimaan tenaga PTT dalam beberapa waktu terakhir.Mereka mempertanyakan dasar dan mekanisme perekrutan yang dilakukan.
"Kalau memang ada penerimaan tenaga PTT, seharusnya diumumkan secara terbuka sehingga semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk mendaftar dan mengikuti seleksi," ujar salah seorang sumber kepada awak Media .
Menurut sumber tersebut, keterbukaan dalam rekrutmen tenaga di instansi pemerintah merupakan bagian dari prinsip tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), sehingga setiap warga yang memenuhi syarat memperoleh kesempatan yang setara.
Selain menyangkut transparansi, perekrutan tenaga kesehatan juga dinilai harus mempertimbangkan kompetensi, kebutuhan pelayanan rumah sakit, serta mekanisme yang dapat dipertanggungjawabkan.
Rekrutmen yang tidak melalui prosedur yang jelas dikhawatirkan menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
Menanggapi informasi tersebut, Direktur RSUD dr. H. Yuliddin Away, dr. Erizaldi, M.Kes., Sp.OG., M.H.Kes, melalui Kepala Subbagian Hubungan Masyarakat dan Pemasaran, Ns. Hendra Liyusman, S.Kep., M.K.M, didampingi Kepala Subbagian Kepegawaian dan Pengembangan SDM, Ema Hendara, SKM., M.K.M, membenarkan adanya tenaga yang sedang mengikuti masa orientasi di rumah sakit tersebut.
Menurut Hendra, saat ini terdapat 10 orang yang menjalani orientasi, terdiri atas lima perawat lulusan Diploma III Keperawatan dan lima tenaga nonmedis, termasuk satu orang petugas keamanan (satpam).
Ia menegaskan bahwa selama masa orientasi yang berlangsung tiga bulan, para peserta belum berstatus sebagai pegawai rumah sakit.
"Mereka masih mengikuti orientasi selama tiga bulan. Selama masa itu mereka tidak menerima gaji maupun jasa pelayanan medis," kata Hendra kepada wartawan, Jumat (31/7/2026).
Namun, ketika ditanya mengenai mekanisme penerimaan, waktu pelaksanaan rekrutmen, serta alasan tidak adanya pengumuman terbuka kepada masyarakat, pihak rumah sakit belum memberikan penjelasan secara rinci.
Hendra hanya menyampaikan bahwa orientasi tersebut dilakukan karena adanya kebutuhan mendesak di rumah sakit.
Editor : Jamaluddin
Artikel Terkait
