Sekolah Hanyut, Masa Kecil Terputus: Kisah Asyatul Alfa Dua Bulan Setelah Banjir Bandang Pidie Jaya
PIDIE JAYA, ACEH, iNewsPortalAceh.id - Dua bulan telah berlalu sejak banjir Aceh termasuk di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, pada 25 November 2025. Air telah surut. Kamera sudah jarang datang. Tetapi bagi anak-anak yang kehilangan sekolah, bencana itu belum benar-benar selesai.
Salah satunya Asyatul Alfa, siswi kelas 9 Sekolah IT AN Nur. Ia berdiri di atas lumpur tebal, di lokasi yang dulu adalah sekolahnya.
Bangunan itu kini hancur total. Lebih ironis lagi, halaman tempat mereka bermain dan berbaris setiap pagi kini berubah menjadi jalur sungai baru—bekas amukan air yang tak menyisakan ruang bagi masa kanak-kanak. Asyatul datang bukan untuk belajar.
Ia datang untuk mencari sisa-sisa hidupnya sebagai pelajar. Buku, pakaian, dan barang asrama yang mungkin masih bisa diselamatkan. Namun hampir tak ada yang tersisa.
“Sedih lihat sekolah hancur,” katanya lirih, saat ditemui di antara puing bangunan yang tertutup lumpur.

Malam bencana itu, Asyatul dan teman-temannya berada di asrama. Awalnya, mereka mengira air hanya naik sebentar—seperti banjir-banjir sebelumnya yang masih bisa dibersihkan keesokan hari. Mereka pun tidur.
Namun tengah malam, semuanya berubah. Air terus naik dan mulai masuk ke rumah Ustad Makmur, tempat mereka mengungsi sementara.
Padahal rumah itu dikenal cukup tinggi dari permukaan tanah. Hanya empat orang yang sempat dievakuasi ke balai Ustad Faisal di bagian belakang sekolah.
Selebihnya terjebak. Arus terlalu kuat. Air terlalu tinggi untuk diterobos. Asyatul dan beberapa lainnya bertahan di rumah Ustad Makmur selama satu hari penuh, tanpa kepastian.

Sebagian siswa lain terjebak di lantai dua asrama. Selama tiga hari, mereka tidak mendapat makanan. Baru pada Jumat pagi, mereka berhasil keluar lewat jembatan di belakang sekolah.
Seluruhnya selamat—lima belas siswa laki-laki dan lima belas siswa perempuan—namun dengan trauma yang tertinggal.
Hari ini, Asyatul dan teman-temannya masih bersekolah. Mereka belajar di sekolah darurat di pinggir jalan. Tetap belajar, meski tanpa ruang kelas yang layak, tanpa perlengkapan yang utuh, dan tanpa rasa aman yang sama.
“Kami tetap belajar,” ujar Asyatul. “Tapi kami berharap sekolah kami dibangun lagi. Di tempat yang lebih aman.” Di lokasi sekolah lama, Asyatul kembali mengais lumpur. Kasur dan bantal masih ada, tetapi lemari, pakaian, buku pelajaran, hingga Al-Qur’an milik siswa semuanya hilang.
Tak satu pun bisa diselamatkan. Di Pidie Jaya, banjir bandang tidak hanya menghanyutkan bangunan.
Ia memutus ruang belajar, merampas rasa aman, dan memaksa anak-anak tumbuh lebih cepat dari seharusnya.
Dua bulan berlalu, pertanyaan itu masih menggantung: kapan sekolah ini dibangun kembali, dan seberapa aman masa depan mereka nanti?
Editor : Jamaluddin