Belajar di Atas Lumpur: Tangis Siswi SMAN 2 Meureudu Dua Bulan Setelah Banjir Bandang
PIDIE JAYA, ACEH, iNewsPortalAceh.id - Dua bulan telah berlalu sejak banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan wilayah Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.
Air memang telah pergi, tetapi bekas lukanya masih tertinggal, terutama di sekolah-sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi anak-anak untuk bermimpi tentang masa depan.
Di SMAN 2 Meureudu, lumpur setinggi hampir tiga meter pernah menelan seluruh area sekolah. Ruang kelas, perpustakaan, meja, kursi, hingga buku-buku pelajaran terkubur tanpa sisa.
Hingga hari ini, bangunan sekolah itu belum pulih. Yang tersisa hanyalah hamparan lumpur yang mulai mengering, menjadi saksi bisu terhentinya proses belajar yang layak.
Nuraisyi, siswi SMAN 2 Meureudu, menceritakan kondisi yang mereka jalani saat ini. Tak ada lagi ruang kelas. Tak ada lagi bangku dan papan tulis. Proses belajar terpaksa dilakukan di luar ruangan, di bawah pepohonan, beralaskan terpal yang dibentangkan di atas lumpur.
“Perasaannya sedih sekali,” kata Nuraisyi. “Sekolah kami berubah banget. Dulu sama sekarang itu jauh berbeda.”
Kesedihan itu tak hanya soal bangunan. Banyak siswa kini tak lagi rutin masuk sekolah. Sebagian memilih bertahan di rumah karena kondisi keluarga yang belum pulih pascabencana.
“Murid-murid sekarang kadang ada, kadang tidak. Mungkin karena kondisi rumah mereka juga belum stabil,” ujarnya.
Bagi siswa kelas dua belas, waktu tak bisa menunggu. Di tengah keterbatasan, mereka tetap dipaksa kuat. Guru-guru masih datang dan mengajar, meski tanpa fasilitas yang memadai.
“Kami kelas dua belas tetap belajar seperti biasa. Guru-guru tetap mengajar supaya kami punya ilmu dan bisa lanjut ke perguruan tinggi,” kata Nuraisyi, suaranya bergetar.
“Walaupun kondisi kami sangat sedih seperti ini.” Namun belajar tanpa buku, tanpa meja, tanpa kursi, adalah perjuangan yang melelahkan.
Perpustakaan sekolah hancur total. Buku-buku pelajaran terendam lumpur dan tak lagi bisa digunakan.
“Kami sangat butuh bantuan untuk memperbaiki fasilitas sekolah. Buku, meja, kursi, semuanya sudah tidak ada,” ujarnya.
Lebih dari itu, ada kekhawatiran yang jauh lebih besar: masa depan. Banyak orang tua siswa kehilangan segalanya akibat banjir. Penghasilan terputus. Harapan untuk membiayai pendidikan anak pun ikut tenggelam.
“Kami sangat membutuhkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah,” tutur Nuraisyi.

“Kondisi orang tua kami sekarang sudah tidak ada apa-apa lagi.” Harapan serupa disampaikan Nabila, siswa lainnya.
Ia mengaku kesulitan belajar dalam kondisi seperti ini.
“Kami kekurangan fasilitas. Baju sekolah tidak ada, meja dan kursi tidak ada. Rasanya sedih banget,” kata Nabila.
Ia mengenang masa sebelum bencana, saat belajar masih terasa normal. “Dulu kami bisa belajar enak, ada meja, ada kursi. Sekarang nulis saja susah.”
Di tengah keterbatasan, permintaan mereka sederhana: bantuan nyata.
“Kami berharap pemerintah bantu baju sekolah, rok, sepatu, kursi, dan bangun sekolah baru yang lebih layak,” ujar Nabila.
Meski demikian, semangat itu belum padam sepenuhnya. Dengan duduk di atas terpal, di atas lumpur yang mengering, mereka tetap datang ke sekolah. Tetap mencatat. Tetap bermimpi.
“Meskipun kondisi seperti ini, kami tetap semangat sekolah,” kata Nabila.
“Walaupun harus duduk di atas lumpur.” Di SMAN 2 Meureudu, pendidikan hari ini bukan lagi soal gedung atau fasilitas.
Editor : Jamaluddin