Ramadhan 2026 Sudah Dekat Yanti Menjerit Memanggil Rumah yang Hilang Ditelan Lumpur Banjir Aceh
PIDIE JAYA, PortalAceh.id — Menjelang bulan suci Ramadhan 2026, jeritan pilu memecah sunyi di Desa Meunasah Raya, Kecamatan Meurah Dua, Pidie Jaya.
Yanti, seorang warga yang menjadi korban banjir Aceh dan tanah longsor, histeris memanggil rumahnya—tempat pulang yang kini tak lagi terlihat, terkubur lumpur setinggi lebih dari tiga meter.
Di hadapan hamparan lumpur yang membisu, Yanti berdiri terpaku. Rumah yang selama ini menjadi ruang bernaung, tempat berdoa, dan menata harapan, lenyap tanpa jejak.
Bencana hidrometeorologi yang melanda kawasan Meurah Dua itu mengubur seluruh bangunan, menyisakan puing dan trauma yang mengendap. Dengan suara bergetar, Yanti memanggil-manggil rumahnya.
Tangisnya pecah, memantul di antara gundukan lumpur yang telah mengeras. Tak satu pun harta benda sempat diselamatkan—perabot rumah tangga, pakaian, hingga sepeda motor—semuanya hilang terseret banjir bandang dan longsor.
Sejak musibah terjadi, Yanti tak pernah lagi bisa kembali untuk tinggal. Ia datang sesekali, bukan untuk menetap, melainkan untuk mengenang.
Permukiman itu kini ditetapkan sebagai zona merah; tak ada aktivitas warga. Yang tersisa hanya sunyi, lumpur, dan bekas-bekas kehidupan yang terhenti.
Menjelang Ramadan, pilu itu kian terasa. Saat umat Muslim bersiap menyambut bulan suci, Yanti justru kehilangan tempat untuk bersujud dan berlindung.
Ia berharap pemerintah segera menghadirkan solusi—hunian yang aman dan layak—agar ia dan para korban lain dapat menjalani Ramadan dengan lebih tenang, meski hidup mereka telah porak-poranda.
Banjir bandang dan longsor yang menerjang wilayah ini bukan hanya merenggut rumah, tetapi juga meninggalkan luka mendalam yang hingga kini belum sembuh di Aceh.
Editor : Jamaluddin