get app
inews
Aa Text
Read Next : PNS Pidie Jaya Full Senyum! THR Rp16,8 Miliar Cair Lebih Awal, Cek Rekening Sekarang!

Saat Pendidikan Makin Mahal, Ada yang Memilih Menggratiskan Hidup dan Masa Depan 250 Santri di Aceh

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 09:17 WIB
header img
Saat Pendidikan Makin Mahal, Ada yang Memilih Menggratiskan Hidup dan Masa Depan 250 Santri di Pidie Jaya.(Foto : Istimewa).

PIDIE JAYA, iNewsPortalAceh.id – Ketika biaya pendidikan terus menjadi beban bagi banyak keluarga, sebuah lembaga pendidikan di pelosok Kabupaten Pidie Jaya justru membuka pintunya tanpa memungut biaya dari para santri.

Di Dayah Raudhatul Jannah Al-Malasyi Al-Munawarah, para santri bahkan datang dengan bekal sederhana: pakaian.

Selebihnya, kebutuhan pendidikan hingga makan dan minum mereka ditanggung secara gratis.

Di balik gerakan pendidikan tersebut terdapat sosok Tgk. H. Sibral Malasyi, M.Ali., S.Sos., M.E. Hasil usaha yang dirintisnya tidak semata digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi dialihkan menjadi investasi sosial melalui pembangunan dan keberlangsungan dayah.

Sejak direncanakan pada 2000 dan mulai berkembang pada 2007, pembangunan dayah tersebut sebagian besar dibiayai menggunakan dana pribadi.

Mulai dari pembebasan lahan, ruang belajar, asrama, mushalla hingga berbagai fasilitas pendukung dibangun secara bertahap.

Namun, perjuangannya tidak berhenti ketika bangunan berdiri. Justru tantangan terbesar dimulai setelahnya: bagaimana memastikan anak-anak tetap bisa belajar tanpa harus memikirkan biaya.

Biaya operasional dayah, termasuk kebutuhan sehari-hari dan konsumsi santri, terus ditanggung. Kebijakan itu membuat pendidikan di dayah tersebut dapat diakses tanpa membebani keluarga santri.

Dari Anak Yatim dan Dhuafa, Kini Semua Santri Gratis Pada awalnya, Dayah Raudhatul Jannah memprioritaskan anak yatim dan keluarga dhuafa. Seiring perkembangan lembaga, kebijakan tersebut diperluas.

Kini, seluruh santri memperoleh pendidikan gratis tanpa membedakan latar belakang ekonomi. Sekitar 250 santri saat ini menimba ilmu di dayah tersebut.

Pendidikan yang diberikan pun tidak hanya berorientasi pada penguasaan ilmu agama. Dayah memadukan pembelajaran kitab kuning dengan pendidikan SPM Wustha dan SPM Ulya, sehingga para santri mendapatkan bekal keilmuan sekaligus pembentukan karakter dan akhlak.

Di tengah kebutuhan biaya pendidikan yang semakin tinggi, model seperti ini menjadi oase bagi keluarga yang ingin memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak mereka, tetapi terbentur kemampuan ekonomi.

Harta Diubah Menjadi Jalan Pendidikan Apa yang dilakukan Tgk. H. Sibral Malasyi menunjukkan bahwa ukuran kekayaan tidak selalu terletak pada seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan.

Ada kekayaan yang nilainya justru muncul ketika harta tersebut diubah menjadi ruang belajar, tempat tinggal, makanan, ilmu dan masa depan anak-anak.

Bangunan dapat mengalami perubahan, harta dapat berpindah tangan, tetapi ilmu yang ditanamkan kepada seorang santri dapat terus hidup dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dari Gampong Meuko Baroh, sebuah pesan sederhana muncul: pendidikan tidak harus menjadi kemewahan. Bagi keluarga yang tidak mampu, pintu belajar tetap terbuka.

Bagi anak yatim dan dhuafa, kesempatan menuntut ilmu tidak berhenti karena persoalan biaya. Dan bagi sekitar 250 santri yang kini belajar di sana, apa yang mereka terima bukan sekadar pendidikan gratis.

Mereka sedang menerima sebuah kesempatan untuk mengubah masa depan. Jika kelak para santri itu menjadi ulama, guru, pemimpin, pengusaha atau orang-orang yang mengabdikan hidupnya untuk masyarakat, maka investasi yang ditanamkan hari ini akan terus berbuah jauh melampaui nilai materi yang pernah dikeluarkan.

Editor : Jamaluddin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut