Kenduri Apam di Posko Bencana Banjir, Ikhtiar Spiritual Perempuan Pidie Jaya Menyambut Ramadan

Jamalpangwa
Kenduri Apam di Tenda Darurat Posko Banjir, Ikhtiar Spiritual Perempuan Pidie Jaya Aceh Menyambut Ramadan.(iNews / Jamalpangwa).

PIDIE JAYA, iNewsPortalAceh.id — Di balik keterbatasan hidup di posko pengungsian, puluhan perempuan korban banjir bandang dan longsor di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, memilih menyalakan harapan melalui tradisi. Mereka menggelar kenduri apam di posko pengungsian Desa Blang Awe, Kecamatan Meureudu pada Minggu (18/01/2026) pukul 10.00 WIB.

Meski masih hidup dalam kondisi darurat pascabencana dahsyat yang melanda wilayah tersebut pada 25 November 2025 lalu, para perempuan ini tetap mensyukuri nikmat kehidupan dengan melaksanakan kenduri apam di bulan Rajab—bulan yang sarat makna spiritual bagi masyarakat Aceh.

Kegiatan kenduri apam dilakukan secara sederhana di dalam tenda pengungsian, dengan peralatan seadanya. Namun, nilai kebersamaan dan kepedulian tetap terasa kuat.

Apam yang dibakar bersama itu tidak hanya dinikmati di posko, tetapi juga dibagikan kepada para korban banjir lainnya yang berada di sejumlah posko pengungsian desa sekitar.

Kenduri ini menjadi simbol rasa syukur sekaligus penguat batin di tengah duka.

Tradisi yang dilakukan secara bergotong royong itu memperlihatkan keteguhan para perempuan korban bencana dalam menjaga nilai-nilai budaya dan religius meski berada dalam kondisi sulit.

Dalam budaya Aceh, kenduri apam atau teut apam memiliki filosofi mendalam. Tradisi ini diyakini sebagai bentuk ungkapan syukur, permohonan maaf—yang berasal dari kata Arab afwan atau afuwun—serta persiapan spiritual menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Selain itu, kenduri apam juga mencerminkan nilai sedekah, kebersamaan, dan kepedulian sosial. Bentuk apam yang bulat melambangkan kesempurnaan dan perjalanan hidup yang terus berputar.

Lapisan kue yang rapuh menjadi simbol kefanaan manusia, sementara rasa manis dan gurihnya merepresentasikan ujian serta kenikmatan hidup yang harus dijalani dengan keikhlasan.

Tradisi ini juga menjadi sarana doa bagi para leluhur.

Ketua Forum Pemberdayaan Perempuan Indonesia Provinsi Aceh, Asmahan, menilai kegiatan tersebut sebagai bukti ketangguhan perempuan korban bencana.

“Di tengah keterbatasan dan kesedihan, para perempuan ini mampu menjaga tradisi, berbagi, dan saling menguatkan. Ini bukan sekadar kenduri, tetapi bentuk kekuatan spiritual dan sosial yang luar biasa,” ujarnya.

Di tengah derita dan ketidakpastian, kenduri apam di posko pengungsian menjadi pengingat bahwa harapan, doa, dan kebersamaan masih terus hidup di antara para penyintas banjir bandang dan longsor di Pidie Jaya.

Editor : Jamaluddin

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network