Krisis Air Ancam Ribuan Hektare Sawah di Pidie Jaya, Aliran Sungai Berubah Usai Banjir Besar
PIDIE JAYA, iNewsPortalAceh.id– Ribuan hektare lahan persawahan di Kabupaten Pidie Jaya menghadapi ancaman kekurangan pasokan air memasuki musim tanam.
Petani di Kecamatan Meureudu dan Meurah Dua mulai mengeluhkan sulitnya air mengalir ke sawah akibat perubahan alur Sungai Krueng Meureudu pascabanjir hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut pada 2025.
Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya menyatakan telah menyiapkan langkah penanganan darurat untuk mengurangi dampak yang dialami petani.
PLT Kadis Pekerjaan Umum Pidie Jaya Ir. Edi Saputra, S.T., M.T melalui Kepala Bidang Pengairan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Pidie Jaya, Amir Hamzah Isa, S.T. M.T, mengatakan perbaikan darurat akan segera dilakukan melalui kolaborasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) alat berat.
"Insya Allah dalam waktu dekat akan dilakukan perbaikan darurat oleh BPBD bersama UPTD alat berat untuk mengatasi persoalan suplai air ke areal persawahan," kata Amir Hamzah.
Ia menjelaskan, persoalan irigasi yang terjadi saat ini merupakan dampak lanjutan dari bencana banjir besar yang mengubah kondisi fisik Sungai Krueng Meureudu.
Menurutnya, aliran sungai kini tidak lagi melewati jalur lama maupun bendung utama, melainkan telah membentuk alur baru ke arah kanan sungai, sehingga pasokan air menuju jaringan irigasi utama terganggu.
Selain perubahan alur sungai, sedimentasi yang tinggi di kawasan bendung, kantong lumpur, hingga saluran terowongan atau siphon mercu bendung yang tersumbat turut memperburuk distribusi air ke lahan pertanian.
Kondisi tersebut diperparah dengan debit Sungai Krueng Meureudu yang terus menurun akibat memasuki masa transisi menuju musim kemarau.
Di sisi lain, sejumlah saluran sekunder juga masih dipenuhi endapan lumpur sehingga menghambat aliran air ke areal persawahan.
Sebagai solusi sementara, pemerintah daerah tengah membangun saluran darurat atau free intake untuk mengalirkan air ke lahan pertanian.
Namun, Amir Hamzah mengakui kapasitas saluran darurat tersebut masih terbatas dan belum mampu melayani sekitar 1.400 hektare sawah yang tersebar di tiga kecamatan, yakni Meureudu, Meurah Dua, dan Ulim.
Akibat keterbatasan pasokan air, pemerintah mengimbau petani untuk tidak menanam padi di seluruh lahan secara bersamaan.
"Karena air yang tersedia belum mencukupi seluruh areal, pola tanam perlu disesuaikan. Tidak semua lahan bisa ditanami padi, sebagian diharapkan dialihkan ke tanaman palawija agar kebutuhan air dapat diatur," jelasnya.
Editor: Jamaluddin