Padahal rumah itu dikenal cukup tinggi dari permukaan tanah. Hanya empat orang yang sempat dievakuasi ke balai Ustad Faisal di bagian belakang sekolah.
Selebihnya terjebak. Arus terlalu kuat. Air terlalu tinggi untuk diterobos. Asyatul dan beberapa lainnya bertahan di rumah Ustad Makmur selama satu hari penuh, tanpa kepastian.
Sebagian siswa lain terjebak di lantai dua asrama. Selama tiga hari, mereka tidak mendapat makanan. Baru pada Jumat pagi, mereka berhasil keluar lewat jembatan di belakang sekolah.
Seluruhnya selamat—lima belas siswa laki-laki dan lima belas siswa perempuan—namun dengan trauma yang tertinggal.
Hari ini, Asyatul dan teman-temannya masih bersekolah. Mereka belajar di sekolah darurat di pinggir jalan. Tetap belajar, meski tanpa ruang kelas yang layak, tanpa perlengkapan yang utuh, dan tanpa rasa aman yang sama.
“Kami tetap belajar,” ujar Asyatul. “Tapi kami berharap sekolah kami dibangun lagi. Di tempat yang lebih aman.” Di lokasi sekolah lama, Asyatul kembali mengais lumpur. Kasur dan bantal masih ada, tetapi lemari, pakaian, buku pelajaran, hingga Al-Qur’an milik siswa semuanya hilang.
Tak satu pun bisa diselamatkan. Di Pidie Jaya, banjir bandang tidak hanya menghanyutkan bangunan.
Editor : Jamaluddin
Artikel Terkait
