HMI Meuseuraya: Jalan Baru Membangun Persatuan dan Relevansi HMI di Tingkat Nasional

Armia Jamil
Muhammad Fadli, S.H., CPLA, Sekretaris Umum HMI Badko Aceh. Foto: Istimewa

OPINI

Oleh: Muhammad Fadli, S.H., CPLA
Sekretaris Umum HMI Badko Aceh 

DI TENGAH  derasnya arus globalisasi, revolusi digital, dan kompetisi geopolitik yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan organisasi kemahasiswaan yang tidak hanya mampu mencetak pemimpin, tetapi juga melahirkan gagasan besar bagi masa depan bangsa. Dalam konteks itu, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) memiliki posisi yang sangat strategis. Selama hampir delapan dekade sejak didirikan oleh Lafran Pane pada 5 Februari 1947, HMI telah menjadi salah satu sekolah kepemimpinan terbesar di Indonesia. Dari rahim organisasi ini lahir banyak tokoh nasional yang mewarnai perjalanan republik, mulai dari akademisi, birokrat, pengusaha, ulama, hingga negarawan.

Lafran Pane mendirikan HMI bukan semata-mata sebagai wadah berhimpun mahasiswa Islam, melainkan sebagai gerakan kader yang bertugas menjaga keislaman sekaligus keindonesiaan. 

Dua misi besar HMI mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan mempertinggi derajat umat Islam merupakan fondasi yang hingga hari ini tetap relevan. Karena itu, ukuran keberhasilan HMI tidak boleh berhenti pada banyaknya kader yang menduduki jabatan publik, tetapi sejauh mana organisasi ini mampu menghadirkan solusi atas persoalan bangsa.

Sayangnya, harus diakui bahwa dalam beberapa tahun terakhir, energi HMI kerap tersita oleh dinamika internal yang berkepanjangan. 

Perbedaan pilihan politik, polarisasi kepemimpinan, rivalitas antarkelompok, hingga menurunnya budaya intelektual sering kali lebih mendominasi ruang diskusi dibandingkan upaya merumuskan solusi terhadap persoalan bangsa. Padahal, organisasi yang besar bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan, melainkan organisasi yang mampu mengelola perbedaan menjadi kekuatan kolektif.

Dalam ilmu organisasi, Peter Drucker mengingatkan bahwa culture eats strategy for breakfast. Sebaik apa pun strategi organisasi, semuanya akan gagal apabila budaya organisasinya tidak sehat. Edgar H. Schein, melalui teorinya tentang budaya organisasi, juga menjelaskan bahwa nilai, kebiasaan, dan cara berpikir bersama jauh lebih menentukan masa depan organisasi daripada sekadar struktur formalnya. Sementara Warren Bennis menegaskan bahwa organisasi yang bertahan adalah organisasi yang mampu belajar, beradaptasi, dan membangun kepercayaan antaranggotanya.

Editor : Armia Jamil

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3 4

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network