get app
inews
Aa Text
Read Next : Intensitas Hujan Tinggi Akibatkan Banjir dan Longsor di Sejumlah Titik Kabupaten Pidie

35 Kilometer Sungai Rusak, Pidie Jaya Berpacu dengan Ancaman Banjir

Rabu, 04 Februari 2026 | 13:54 WIB
header img
35 Kilometer Sungai Rusak, Pidie Jaya Berpacu dengan Ancaman Banjir.(iNews/ Jamalpangwa).

PIDIE JAYA, ACEH, iNewsPortalAceh.id– Pascabanjir bandang dan longsor yang sempat melumpuhkan sejumlah wilayah, Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya mulai mengembalikan fungsi sungai. Namun, ancaman bencana susulan masih membayangi.

Sungai memang kembali mengalir, tetapi kondisinya masih dangkal dan rawan meluap jika hujan deras kembali turun.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Bupati Pidie Jaya, H. Sibral Malasyi, saat meninjau lokasi normalisasi sungai di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh.

Bupati menjelaskan, normalisasi darurat telah dilakukan mulai dari Desa Blang Awe hingga Desa Meunasah Usen, wilayah yang sebelumnya tertimbun lumpur tebal dan gelondongan kayu akibat terjangan banjir bandang dan longsor.

Dengan bantuan alat berat excavator jepit dari pemerintah pusat, material lumpur dan kayu berhasil dibersihkan, sehingga aliran sungai kembali ke jalur dasarnya sebelum bencana.

“Alhamdulillah, hari ini sungai sudah kembali mengalir seperti semula. Material lumpur dan kayu yang menyumbat aliran sudah kita bersihkan,” ujar Bupati.

Namun, di balik kabar tersebut, tersimpan persoalan besar. Kedalaman sungai kini masih jauh dari ideal.

Menurut Bupati, pengerukan dan normalisasi menyeluruh harus segera dilakukan, terutama oleh pemerintah pusat, agar sungai kembali dalam dan mampu menampung debit air saat musim hujan.

Bupati mengungkapkan, sedikitnya 35 kilometer alur sungai dari hulu hingga hilir membutuhkan penanganan serius.

Tidak hanya satu sungai, melainkan tujuh daerah aliran sungai (DAS) di Kabupaten Pidie Jaya, termasuk Krueng Meureudu, yang berada di bawah kewenangan Balai Wilayah Sungai (BWS).

Kondisi muara sungai yang dangkal disebut menjadi ancaman ganda. Selain berpotensi menyebabkan banjir, pendangkalan muara juga menghambat aliran air ke laut dan berdampak langsung pada kehidupan nelayan.

“Air sungai tertahan di muara. Nelayan kita tidak bisa melaut saat air surut karena muara sangat dangkal,” ungkapnya.

Pemerintah daerah, lanjut Bupati, menyadari keterbatasan yang dimiliki. Keterbatasan sumber daya manusia, alat berat, hingga anggaran membuat Pemkab Pidie Jaya hanya mampu melakukan normalisasi darurat sepanjang sekitar 1,8 kilometer.

“Kalau ini tidak ditangani secara maksimal, hujan deras sedikit saja pasti sungai akan meluap kembali ke permukiman warga,” tegasnya.

Sebelumnya, derasnya banjir bahkan menciptakan alur sungai baru yang menghantam Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) An-Nur di Desa Pante Geulima, Kecamatan Meureudu.

Bangunan sekolah dan rumah warga porak-poranda diterjang arus deras.

Saat ini, melalui kerja sama pemerintah pusat, TNI, Polri, serta pihak Adhi Karya, dilakukan penanggulangan sementara.

Aliran sungai kembali diarahkan ke jalur awal yang telah dinormalisasi, demi mencegah bencana yang lebih besar.

Editor : Jamaluddin

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut