Menerjang Banjir Demi Nyawa: Kisah Bayi Patah Tulang dan Ibunya di Pengungsian
Pada Jumat (31/12) menjadi hari yang panjang. Menggunakan ambulans dari Puskesmas Aceh Tamiang, perjalanan evakuasi berlangsung hingga pukul 20.00 WIB. Lelah fisik tim relawan terbayar saat melihat sang bayi akhirnya bisa tertidur pulas dalam dekapan kehangatan rumah sakit, jauh dari dinginnya tenda pengungsian.
"Bayi sudah aman dan nyaman, sedang tidur. Semoga anak ini tumbuh menjadi pribadi yang kuat, tangguh, dan bermanfaat bagi sesama," ucap Hidayat dengan nada penuh syukur.
Rasa haru tak terbendung dari pihak keluarga. Di lorong rumah sakit, perwakilan keluarga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para relawan dan pemerintah yang telah menjadi "penyambung nyawa" bagi anggota keluarga mereka.
"Kami sangat berterima kasih telah dibawa dari Aceh hingga ke RS Adam Malik di Medan. Semoga bencana di Aceh segera membaik, dan terima kasih untuk semua tangan-tangan baik yang telah membantu kami," ungkap perwakilan keluarga dengan mata berkaca-kaca.
Kini, ibu dan bayi tersebut telah berada di tangan yang tepat. Di tengah musibah yang melanda Aceh Tamiang, solidaritas kemanusiaan terbukti mampu menjadi cahaya penerang bagi mereka yang sedang terjepit kesulitan.
Editor : Vitrianda Hilba SiregarEditor Jakarta